Dewasa ini, keterlambatan dalam menjalani kegiatan menjadi masalah yang riskan dalam kehidupan. Terlambat merupakan salah satu budaya negatif yang berkembang pada masyarakat Indonesia dan telah dianggap wajar oleh sebagian masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa (Angga, 2015). Mahasiswa sering berasumsi bahwa kegiatan yang akan diikuti tidak akan berlangsung tepat pada waktu yang telah ditentukan. “Kalau aku sih, pas kerja kelompok biasanya. Temen-temen kan pasti ngaret tuh, jadi yaudah aku ikut ngaret aja”, ucap Yuli, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Hal serupa juga diucapkan oleh Dayu Susanti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Udayana. “Menurutku, terlambat itu tidak mutlak karena kesengajaan, tapi kenyataannya, di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sendiri, terlambat sudah menjadi bagian dari sebuah kegiatan”, tuturnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa “terlambat” sudah menjadi hal yang biasa, bahkan membudaya di kalangan mahasiswa.

Agus Budi Prasetya dalam cerita pendeknya yang berjudul “Jam Karet : Antara Toleransi dan Budaya”, berpendapat bahwa acara yang tidak tepat waktu merupakan suatu kebiasaan, murid yang terlambat juga merupakan hal yang normal, apalagi para PNS yang datang terlambat, tetapi pulang cepat. Apabila ada acara yang dimulai pukul 7, peserta akan berangkat pukul 7 pula. Hal tersebut karena kebanyakan orang beranggapan bahwa keterlambatan adalah sesuatu yang wajar.

Beberapa faktor yang biasanya menyebabkan terlambat yaitu :

  1. Malas

Sifat malas dapat tercipta karena bawaan ataupun pengaruh situasi dan kondisi. Biasanya, perasaan malas muncul karena ketidaktertarikan seseorang terhadap sesuatu yang akan dijalaninya. Kemalasan yang menghampiri seseorang akan menyebabkan dirinya tidak memiliki antusiasme untuk menjalani sesuatu, hingga ia terlambat dan menjalaninya dengan “setengah-setengah”.

  1. Macet

Sulit dipungkiri bahwa keadaan tidak terduga di tengah perjalanan sulit diprediksi. Salah satunya adalah macet, yang menjadi salah satu penyebab keterlambatan. “Waktu ini, aku sempat terlambat gara-gara macet. Bukan kegiatan perkuliahan sih, tapi tetap saja namanya terlambat”, tutur Dayu. Menghindari hal tersebut, alangkah baiknya mengetahui titik-titik rawan macet dan mencari jalan alternatifnya, serta memerkirakan jarak tempuh dari tempat awal ke tempat tujuan dan kondisi di perjalanan agar terhindar dari keterlambatan.

  1. Pengaruh lingkungan

Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Tidak mustahil apabila seseorang yang dulunya selalu tepat waktu, berubah menjadi seseorang yang sering terlambat karena melihat teman-teman, atasan, bahkan pejabat sering terlambat. Perubahan perilaku tersebut terjadi karena perubahan pola pikir seseorang akibat pengaruh lingkungannya. Kebanyakan dari mereka akan berpikir “mengapa saya harus datang tepat waktu jika teman-teman saya terlambat?”.

  1. Toleransi yang berlebihan dan salah tempat

Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID, Presiden AS ke-44, Barack Obama mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi contoh bagi negara-negara lainnya mengenai toleransi. Namun, Agus Prasetya menyampaikan bahwa toleransi yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia terkadang kurang tepat, misalnya memaklumi keterlambatan orang lain walaupun tanpa alasan yang logis. Hal tersebut dapat menurunkan kedisiplinan dan mendukung persepsi masyarakat yang menganggap bahwa keterlambatan merupakan hal yang wajar.

Lalu, bagaimana cara menghadapi keterlambatan yang hampir membudaya? Hal yang paling mendasar yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masing-masing dan menumbuhkan budaya malu. Menurut Alamri (2015), layanan bimbingan kelompok dengan teknik self management dapat mengurangi perilaku siswa terlambat masuk sekolah, sehingga diharapkan dapat menurunkan kebiasaan terlambat pada masyarakat Indonesia. Kemudian, alangkah baiknya membuat kesepakatan bersama terkait waktu kehadiran dan memberi sanksi bagi yang melanggar kesepakatan. Ketegasan dari pemimpin ataupun ketua dalam kegiatan yang akan dilaksanakan sangat penting dalam menjalankan kesepakatan, tetapi kesadaran seluruh pihak terkait dalam kesepakatan merupakan hal utama yang menentukan “ngaret” atau tidaknya kegiatan. Apabila kerja sama seluruh pihak berjalan dengan baik, maka terlambat tidak akan membudaya dan disiplin akan mudah ditegakkan.

 

Sumber :

Alamri, N. 2015. Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Self Management untuk Mengurangi Perilaku Terlambat Masuk Sekolah. Jurnal Konseling GUSJIGANG, Vol. 1 No. 1, ISSN 2460-1187.

Nursyahbani, F. 2017. Obama: Toleransi Indonesia Jadi Contoh Bagi Negara Lain. Dilansir dari http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/07/01/osekf7-obama-toleransi-indonesia-jadi-contoh-bagi-negara-lain [diakses pada 10 Februari 2017]

Prasetya, A. B. 2010. Jam Karet : Antara Budaya dan Toleransi. Langit Merah, Pemenang Antologi Cerpen dan Esai Pemenang Lomba Tahun 2010-2011. Yogyakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa Yogyakarta.

Rangga, A. 2015. Datang Telat Saja, Paling Acaranya “Ngaret”. Dilansir dari https://www.kompasiana.com/agustinusrangga/datang-telat-saja-paling-acaranya-ngaret_5660f1d2d67e61f6251b240c. [diakses pada 2 Februari 2017]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *